MEMBASUH BUKAN SEKEDAR MEMBASAHI
Ini pembahasan yang sederhana tapi perlu perhatian..
Melaksanakan wudhu hendaknya diupayakan maksimal dalam memenuhi hak rukun dan penyempurnanya, sebab wudhu adalah langkah awal menuju amal2 suci dan menentukan keshahihan amal2 itu. Ketika wudhu tidak dilakukan secara sempurna maka tidak mungkin amal yang dituju menjadi sempurna, aplagi kalau tidak lengkap syarat rukunnya.
Perihal membasuh anggauta wudhu (wajah, tangan dan kaki) terkadang hanya dilakukan dengan membasahi atau menyiramnya. Padahal sudah terang perintahnya adalah membasuh.
Jika memahami perintah membasuh tentu agar yang dibasuh itu menjadi bersih, maka perlu adanya ritual menggosok dan mengusap bagian yang di basuh itu, terutama kaki, dimana kaki adalah bagian anggauta yang paling dekat dengan barang kotor dan najis.
Memang hukum ringan menganggap sah dan cukup ketika anggauta sudah dibasahi. Tapi cobalah kita berupaya sempurna. Sebab wudhu adalah ibadah, ibadah adalah hak Allah yg maha sempurna. Apalagi kita selalu memohon yang sempurna dalam anugerahNYA.
والله اعلم بالصواب
#alfaqiermujahidinfilhaq,blajar
Selasa, 11 Desember 2018
Panjang Jimat Kasepuhan, Saat Dipamerkannya Tujuh Piring Walisanga
Ansor dan Baser kecamatan Krangkeng bersama Kapolres baru
*Panjang Jimat Kasepuhan, Saat Dipamerkannya Tujuh Piring Walisanga*
Prosesi Panjang Jimat adalah ritual yang menandai rangkaian puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Cirebon.
Biasanya, setiap tahun prosesi puncak tersebut digelar di Keraton Kasepuhan, dihadiri ribuan, bahkan puluhan ribu warga. Mereka tak hanya merupakan warga Cirebon, melainkan banyak pula yang datang dari berbagai kota di Jawa Barat, bahkan seluruh Pulau Jawa.
Prosesi biasanya ditandai dengan dikeluarkannya lilin dan barang-barang pusaka keraton peninggalan zaman Sunan Gunung Jati, seperti tombak dan tujuh piring panjang (lodor) peninggalan Walisanga, untuk dipergunakan dalam upacara Panjang Jimat, oleh para abdi dalem keraton.
Selain tujuh piring panjang tersebut, turut dikeluarkan makanan yang nantinya ditaruh di atas tapsi (piring panjang). Benda-benda pusaka berikut tujuh tapsi dan makanannya kemudian dibawa para abdi dalem ke Langgar Agung di Kompleks Keraton Kasepuhan. Di Langgar Agung tersebut, dibacakan Kitab Barzanzi. Kitab Barzanzi sendiri adalah kitab kuno tulisan Syeikh Al Barzanzi, berisikan syair kisah hidup dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Usai pembacaan Barzanzi, makanan dibagikan kepada masyarakat yang ikut dalam prosesi panjang jimat tersebut.
Laiknya upacara kebesaran keraton, sebelum upacara dimulai, seorang abdi dalem melaporkan kesiapan upacara panjang jimat kepada Sultan Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat.
Biasanya dalam prosesi itu hadir pejabat daerah dan provinsi. Tahun lalu bahkan hadir puluhan ulama dari Afrika Selatan, selain Kapolda Jabar, Danrem 063/SGJ, Wali Kota Cirebon dan masyarakat berbagai daerah.
Sebenarnya, rangkaian peringatan Muludan (Maulid) kelahiran Nabi SAW yang diperingati Keraton Kasepuhan tersebut cukup panjang, terhitung sejak 15 Safar. Dimulai dengan pembuatan bekasem ikan yang dimasukan ke dalam guci dan dimasak di dapur untuk membuat nasi rasul.
Setelah itu baru prosesi yang melibatkan piring-piring besar. Ada tujuh piring besar, piring tersebut berusia sekitar 700 tahun, dulu digunakan para Walisanga di Cirebon. “Totalnya ada sembilan piring, tetapi yang dikeluarkan panjang jimat ini hanya tujuh tapsi. Piring tersebut dibawa ke Langgar Agung depan Keraton Kasepuhan, dan di sana akan dibacakan Kitab Barzanzi, sebuah kitab berisi sejarah Nabi Muhammad dan dibacakan selawat dan doa,” kata Sulaiman, warga yang menemani saya selama di Cirebon.
Setelah dibacakan Kitab Barzanzi, sekitar pukul 24.00 WIB, makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat dan juga abdi dalem.
Menurut Sulaiman, syiar Islam yang dilakukan Sunan Gunungjati dalam penyebaran Islam, memang salah satunya dengan mengajak masyarakat berkumpul untuk mendengarkan Kitab Barzanzi.
Pada Panjang Jimat tahu lalu, Sultan Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat mengatakan, esensi upacara panjang jimat bukanlah benda pusaka, tetapi sebuah pusaka yang dipelihara secara terus-menerus oleh masyarakat, yaitu syahadat. Masyarakat tak boleh lepas dari dua kalimat syahadat, dari lahir sampai ajal menjemput.
“Kita harapkan panjang jimat ini bisa mengenang sosok Rosulullah, terutama suri teladan Nabi Muhammad. Salah satu suri teladan Nabi SAW adalah toleransi yang tinggi terhadap agama lain, ini bisa kita contoh oleh semua lapisan masyarakat. Mudah-mudahan upacara ini juga sebagai silaturahmi yang bisa memberikan keberkahan, membuka pintu rizki, panjang umur dan selamat dunia akhirat,” kata sultan saat itu.
Perbedaan Syari'ah, Fikih dan Budaya Arab
Perbedaan Syari'ah, Fikih dan Budaya Arab
Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.
(Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)
Syari'ah dan Fikih
Syari'ah merupakan ajaraan Islam yang bersifat permanen, fundamental, dan universal. Dasarnya diperoleh dari Al-Qur'an dan hadis. Sedangkan Fikih adalah ajaran yang Islam yang bersifat interpretasi daripara ulama, terutama ulama mujtahid. Ajaran Fikih bersifat kontemporer, tidak permanen, bisa berubah berdasarkan perubahan illat dan sebab. Jika suatu keadaan berubah maka hukum lama yang pernah ditetapkan para ulama juga berubah. Antara keduanya sesungguhnya memiliki persamaan sebagai pegangan umat Islam di dalam menjalani kehidupannya. Contohnya ialah hukum shalat lima waktu yang wajib ditegakkan sesui dengan firman Allah swt:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ…
Dirikanlah kalian shalat...(Q.S. al-Baqarah/2: 43)
Tidak ada perselisihan tentang wajibnya shalat lima waktu. Ini adalah Syari'ah. Sedangkan Fikih ialah pemahaman dari Syari'ah, tentang bagaimana melakukan shalat secara teknis. Ada orang yang shalat subuh tidak pakai qunut, sedangkan yang lain pakai qunut. Ada orang melipat tangannya di pusar dan ada di dada. Ada yang membaca basmalah secara keras saat membaca surah al-Fatihah dan ada yang tidak. Contoh lain, Syari'ah menganjurkan musyawarah dalam menyelesaikan setiap urusan, tetapi bagaimana cara bermusyawarah merupakan wilayah Fikih. Syari'ah melarang kita memakan riba, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur'an:
…لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً…
…Jangan memakan riba yang berlipat ganda… (Q.S. Ali ‘Imraan/3: 130).
Substansi syari'ahnya kita dilarang makan riba, tetapi kriteria riba dan yang bukan riba masuk wilayah fikih. Singkatnya, Syari'ah adalah sesuatu yang sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Sedangkan Fikih selalu ada potensi untuk dipermasalahkan. Syari'ah bersumber dari Allah swt. sedangkan Fikih bersumber dari pikiran-pikiran cerdas manusia, khususnya para ulama.
Syari'ah lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang bersifat dasar (ushul/basics) sedangkan Fikih lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang bersifat cabang (furu'/branch). Jika kita meninggalkan Syari'ah, persoalan dan urusannya berat, bisa mempengaruhi keabsahan suatu ibadah, bahkan bisa menimbulkan kekufuran. Sedangkan jika meninggalkan Fikih, kita hanya akan berhadapan dengan kesulitan dan tidak membawa kepada kekufuran. Meninggalkan Syari'ah analoginya sama dengan meninggalkan kewajiban. Sedangkan meninggalkan Fikih dapat dianalogikan sama dengan meninggalkan ibadah sunnat.
Persoalan di dalam masyarakat sering muncul karena perbedaan antara Syari'ah dan Fikih yang masih rancu. Terkadang ada orang menempatkan Fikih setara dan sejajar dengan Syariah. Sebaliknya, ada yang menurunkan Syari'ah setara dan sejajar Fikih. Untuk membedakan seara tegas antara Syari'ah dan Fikih kita memang dituntut untuk banyak belajar. Kita diminta memahami seluk beluk ayat dan hadis, mamahami substansi persoalan lalu memahami dasar-dasar bahasa Arab dan kaidah-kaidah ushul Fikih, kaidah-kaidah sabab Nuzul ayat dan sabab Wurud Hadis. Kita juga dituntut untuk lebih arif memahami kondisi objektif di mana hukum itu diterapkan (diistinbath). Semua ilmu-ilmu yang diperlukan dalam proses ijtihad sangat penting, termasuk memahami situasi berat yang dihadapi oleh setiap subjek hukum.
Syariah dan Budaya Arab
Syari'ah secara harfiah berarti jalan, kemudian digunakan sebagai nama dari ajaran Islam yang berisi ketentuan Allah swt. yang berisi perintah dan larangan. Syari'ah bersifat suci dan luhur, karena itu di dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, balasannya adalah surga. Sebaliknya, meninggalkan perintah dan melanggar larangannya tanpa alasan yang diukur oleh Syara' akan mendapatkan balasan neraka. Dasar-dasar Syari'ah ditentukan oleh Al-Qur'an dan hadis Nabi saw.. Tujuan Syari'ah selain untuk menciptakan ketertiban, ketenangan, dan kedamaian di dunia juga untuk mengembalikan manusia ke kampung halaman aslinya di surga.
Sedangkan budaya Arab ialah sebuah tata nilai budaya yang pertama kali mewadahi kedatangan Syari'ah. Budaya Arablah yang pertama kali melakukan interpretasi secara kultural terhadap ajaran Syari'ah yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadis. Oleh karena itu, budaya Arab sangat penting dan besar peranannya di dalam Islam, karena budaya inilah yang pertama kali menjembatani ajaran Syari'ah dan manusia. Budaya Arab menjadi mulia karena bahasanya digunakan Tuhan untuk mengartikulasikan Kitab Suci-Nya. Siapapun umat Islam, baik Arab maupun non Arab harus menggunakan Al-Qur'an yang berbahasa Arab. Seseorang tidak bisa membaca terjemahan surah Al-Fatihah di dalam shalatnya tetapi harus seutuhnya menggunakan bahasa Arab.
Namun demikian, budaya Arab dan Syari'ah Islam tidak identik. Budaya Arab adalah sekumpulan nilai-nilai luhur (profane) dari manusia. Sedangkan Syari'ah adalah sekumpulan nilai-nilia luhur dan suci (sacral) dari Tuhan. Kehadiran budaya lokal non Arab di samping Syari'ah tidak mesti harus diperhadap-hadapkan. Bahkan budaya-budaya lokal non-Arab pun punya hak kultural (cultural right) untuk menafsikan Al-Qur'an dan hadis. Dengan demikian, tidak mesti harus menjadi atau menyerupakan diri sebagai "orang Arab" untuk menjadi the best muslim. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia, bahkan orang Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Papua, dan budaya lokal lainnya, tetapi saat bersamaan juga tetap menjadi the best muslim. Allah swt. menjamin hal ini di dalam Al-Qur'an, bahwa:
…إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ …(13)
“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisih Allah ialah orang-orang yang bertaqwa…”(Q.S. al-Hujurat/49: 13).
Dalam hadis Nabi saw. berkali-kali disampaikan dengan redaksi yang berbeda yang intinya bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non Arab, yang menentukan kemuliaan-kemuliaan itu ialah kualitas iman dan taqwa. Allah swt. sendiri menegaskan:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ…
”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam...”. (Q.S. Al-Isra'/17: 70).
Dengan demikian, Syari'ah Islam bisa diterima di mana-mana. Inilah yang membuat Islam sebagai agama universal yang di dalam Al-Qur'an disebut sebagai Rahmatan lil 'Alamin,agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Jika ada orang yang berusaha memaksakan kehendak untuk menyatukan Islam dengan menenggelamkan kehadiran budaya lokal, dengan alasan tidak sesuai dengan Syari'ah Islam, maka sesungguhnya anggapan itu perlu dipertanyakan. Kehadiran unsur lokal di dalam Islam diapresiasi di dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an itu sendiri berarti menghimpun atau menyatukan (al-jam'), yakni menghimpun yang berserakan dan menyatukan yang berbeda. Inilah makna pernyataan ayat:
…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ…
“…untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan...” (Q.S. al-Maidah/5: 48).Allahu a'lam.
_____________________________________
Ansor dan Banser kecamatan Krangkeng - Indramayu
Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.
(Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)
Syari'ah dan Fikih
Syari'ah merupakan ajaraan Islam yang bersifat permanen, fundamental, dan universal. Dasarnya diperoleh dari Al-Qur'an dan hadis. Sedangkan Fikih adalah ajaran yang Islam yang bersifat interpretasi daripara ulama, terutama ulama mujtahid. Ajaran Fikih bersifat kontemporer, tidak permanen, bisa berubah berdasarkan perubahan illat dan sebab. Jika suatu keadaan berubah maka hukum lama yang pernah ditetapkan para ulama juga berubah. Antara keduanya sesungguhnya memiliki persamaan sebagai pegangan umat Islam di dalam menjalani kehidupannya. Contohnya ialah hukum shalat lima waktu yang wajib ditegakkan sesui dengan firman Allah swt:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ…
Dirikanlah kalian shalat...(Q.S. al-Baqarah/2: 43)
Tidak ada perselisihan tentang wajibnya shalat lima waktu. Ini adalah Syari'ah. Sedangkan Fikih ialah pemahaman dari Syari'ah, tentang bagaimana melakukan shalat secara teknis. Ada orang yang shalat subuh tidak pakai qunut, sedangkan yang lain pakai qunut. Ada orang melipat tangannya di pusar dan ada di dada. Ada yang membaca basmalah secara keras saat membaca surah al-Fatihah dan ada yang tidak. Contoh lain, Syari'ah menganjurkan musyawarah dalam menyelesaikan setiap urusan, tetapi bagaimana cara bermusyawarah merupakan wilayah Fikih. Syari'ah melarang kita memakan riba, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur'an:
…لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً…
…Jangan memakan riba yang berlipat ganda… (Q.S. Ali ‘Imraan/3: 130).
Substansi syari'ahnya kita dilarang makan riba, tetapi kriteria riba dan yang bukan riba masuk wilayah fikih. Singkatnya, Syari'ah adalah sesuatu yang sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Sedangkan Fikih selalu ada potensi untuk dipermasalahkan. Syari'ah bersumber dari Allah swt. sedangkan Fikih bersumber dari pikiran-pikiran cerdas manusia, khususnya para ulama.
Syari'ah lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang bersifat dasar (ushul/basics) sedangkan Fikih lebih banyak berbicara tentang sesuatu yang bersifat cabang (furu'/branch). Jika kita meninggalkan Syari'ah, persoalan dan urusannya berat, bisa mempengaruhi keabsahan suatu ibadah, bahkan bisa menimbulkan kekufuran. Sedangkan jika meninggalkan Fikih, kita hanya akan berhadapan dengan kesulitan dan tidak membawa kepada kekufuran. Meninggalkan Syari'ah analoginya sama dengan meninggalkan kewajiban. Sedangkan meninggalkan Fikih dapat dianalogikan sama dengan meninggalkan ibadah sunnat.
Persoalan di dalam masyarakat sering muncul karena perbedaan antara Syari'ah dan Fikih yang masih rancu. Terkadang ada orang menempatkan Fikih setara dan sejajar dengan Syariah. Sebaliknya, ada yang menurunkan Syari'ah setara dan sejajar Fikih. Untuk membedakan seara tegas antara Syari'ah dan Fikih kita memang dituntut untuk banyak belajar. Kita diminta memahami seluk beluk ayat dan hadis, mamahami substansi persoalan lalu memahami dasar-dasar bahasa Arab dan kaidah-kaidah ushul Fikih, kaidah-kaidah sabab Nuzul ayat dan sabab Wurud Hadis. Kita juga dituntut untuk lebih arif memahami kondisi objektif di mana hukum itu diterapkan (diistinbath). Semua ilmu-ilmu yang diperlukan dalam proses ijtihad sangat penting, termasuk memahami situasi berat yang dihadapi oleh setiap subjek hukum.
Syariah dan Budaya Arab
Syari'ah secara harfiah berarti jalan, kemudian digunakan sebagai nama dari ajaran Islam yang berisi ketentuan Allah swt. yang berisi perintah dan larangan. Syari'ah bersifat suci dan luhur, karena itu di dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya, balasannya adalah surga. Sebaliknya, meninggalkan perintah dan melanggar larangannya tanpa alasan yang diukur oleh Syara' akan mendapatkan balasan neraka. Dasar-dasar Syari'ah ditentukan oleh Al-Qur'an dan hadis Nabi saw.. Tujuan Syari'ah selain untuk menciptakan ketertiban, ketenangan, dan kedamaian di dunia juga untuk mengembalikan manusia ke kampung halaman aslinya di surga.
Sedangkan budaya Arab ialah sebuah tata nilai budaya yang pertama kali mewadahi kedatangan Syari'ah. Budaya Arablah yang pertama kali melakukan interpretasi secara kultural terhadap ajaran Syari'ah yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadis. Oleh karena itu, budaya Arab sangat penting dan besar peranannya di dalam Islam, karena budaya inilah yang pertama kali menjembatani ajaran Syari'ah dan manusia. Budaya Arab menjadi mulia karena bahasanya digunakan Tuhan untuk mengartikulasikan Kitab Suci-Nya. Siapapun umat Islam, baik Arab maupun non Arab harus menggunakan Al-Qur'an yang berbahasa Arab. Seseorang tidak bisa membaca terjemahan surah Al-Fatihah di dalam shalatnya tetapi harus seutuhnya menggunakan bahasa Arab.
Namun demikian, budaya Arab dan Syari'ah Islam tidak identik. Budaya Arab adalah sekumpulan nilai-nilai luhur (profane) dari manusia. Sedangkan Syari'ah adalah sekumpulan nilai-nilia luhur dan suci (sacral) dari Tuhan. Kehadiran budaya lokal non Arab di samping Syari'ah tidak mesti harus diperhadap-hadapkan. Bahkan budaya-budaya lokal non-Arab pun punya hak kultural (cultural right) untuk menafsikan Al-Qur'an dan hadis. Dengan demikian, tidak mesti harus menjadi atau menyerupakan diri sebagai "orang Arab" untuk menjadi the best muslim. Kita bisa tetap menjadi orang Indonesia, bahkan orang Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Papua, dan budaya lokal lainnya, tetapi saat bersamaan juga tetap menjadi the best muslim. Allah swt. menjamin hal ini di dalam Al-Qur'an, bahwa:
…إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ …(13)
“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisih Allah ialah orang-orang yang bertaqwa…”(Q.S. al-Hujurat/49: 13).
Dalam hadis Nabi saw. berkali-kali disampaikan dengan redaksi yang berbeda yang intinya bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan non Arab, yang menentukan kemuliaan-kemuliaan itu ialah kualitas iman dan taqwa. Allah swt. sendiri menegaskan:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ…
”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam...”. (Q.S. Al-Isra'/17: 70).
Dengan demikian, Syari'ah Islam bisa diterima di mana-mana. Inilah yang membuat Islam sebagai agama universal yang di dalam Al-Qur'an disebut sebagai Rahmatan lil 'Alamin,agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Jika ada orang yang berusaha memaksakan kehendak untuk menyatukan Islam dengan menenggelamkan kehadiran budaya lokal, dengan alasan tidak sesuai dengan Syari'ah Islam, maka sesungguhnya anggapan itu perlu dipertanyakan. Kehadiran unsur lokal di dalam Islam diapresiasi di dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an itu sendiri berarti menghimpun atau menyatukan (al-jam'), yakni menghimpun yang berserakan dan menyatukan yang berbeda. Inilah makna pernyataan ayat:
…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ…
“…untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan...” (Q.S. al-Maidah/5: 48).Allahu a'lam.
_____________________________________
Senin, 10 Desember 2018
KETUMBAR DAN PENYEMPITAN PEMBULUH DARAH
“KETUMBAR DAN PENYEMPITAN PEMBULUH DARAH”
Sering kesemutan? Sering nguap walau udah cukup tidur?
Sering kebas?
Sering migrain?
Sering mati rasa? Sering tiba-tiba burem?
Sering berat nafas? Sering malas beraktifitas?
1minggu yg lalu aku baca orang yg berhasil ga jadi pasang ring jantung dengan mengkonsumsi rendaman air ketumbar (link dibawah ya).
Lalu ak cobalah bikin beberapa hari ini dan tnyta emang ak ngalamin banyak perubahan, yg tadinya suka kesemutan, migrain, nguap ga jelas ( oksigen ga lancar di kepala)
mata kabur jadi ngerasa ringan dan lbh energetic.
Sblom ke manfaatnya kita liat yuk ciri-ciri penyumbatan darah dan darah kental, darah kental ini yg bisa bikin jantung berat memompa shg bisa gagal jantung.
-Kulit pucat
-Kesemutan di jari tangan dan/atau jari kaki
-Mati rasa atau kebas di anggota-anggota
- tubuh (misalnya tangan dan kaki)
- Mengalami kram
- Sakit kepala
- Badan terasa tidak seimbang
- Penglihatan buram atau sebagian hilang
- Tekanan darah tinggi
- Otot-otot susah dikendalikan atau lumpuh
Manfaat lain dari ketumbar :
- meningkatkan kesehatan tulang
- membantu masalah alergi kulit
- membantu meredakan sariawan
- MELANCARKAN PEREDARAN DARAH
- menurunkan LDL (kolesterol jahat)
- membantu wanita dalam meringankan nyeri PMS
- menjernihkan penglihatan
- anti Inflamasi
- anti fungal pada tubuh
Dan setelah minum air ketumbar, banyak perubahan yg ak rasain jadi jarang kesemutan dan kepala pun berasa ringan
- Masukkan 2 sdt ketumbar kedalam gelas 250ml
- Siram air mendidih
- Diamkan selama 15menit
- Saring dan minum selagi hangat
Sering kesemutan? Sering nguap walau udah cukup tidur?
Sering kebas?
Sering migrain?
Sering mati rasa? Sering tiba-tiba burem?
Sering berat nafas? Sering malas beraktifitas?
1minggu yg lalu aku baca orang yg berhasil ga jadi pasang ring jantung dengan mengkonsumsi rendaman air ketumbar (link dibawah ya).
Lalu ak cobalah bikin beberapa hari ini dan tnyta emang ak ngalamin banyak perubahan, yg tadinya suka kesemutan, migrain, nguap ga jelas ( oksigen ga lancar di kepala)
mata kabur jadi ngerasa ringan dan lbh energetic.
Sblom ke manfaatnya kita liat yuk ciri-ciri penyumbatan darah dan darah kental, darah kental ini yg bisa bikin jantung berat memompa shg bisa gagal jantung.
-Kulit pucat
-Kesemutan di jari tangan dan/atau jari kaki
-Mati rasa atau kebas di anggota-anggota
- tubuh (misalnya tangan dan kaki)
- Mengalami kram
- Sakit kepala
- Badan terasa tidak seimbang
- Penglihatan buram atau sebagian hilang
- Tekanan darah tinggi
- Otot-otot susah dikendalikan atau lumpuh
Manfaat lain dari ketumbar :
- meningkatkan kesehatan tulang
- membantu masalah alergi kulit
- membantu meredakan sariawan
- MELANCARKAN PEREDARAN DARAH
- menurunkan LDL (kolesterol jahat)
- membantu wanita dalam meringankan nyeri PMS
- menjernihkan penglihatan
- anti Inflamasi
- anti fungal pada tubuh
Dan setelah minum air ketumbar, banyak perubahan yg ak rasain jadi jarang kesemutan dan kepala pun berasa ringan
- Masukkan 2 sdt ketumbar kedalam gelas 250ml
- Siram air mendidih
- Diamkan selama 15menit
- Saring dan minum selagi hangat
Pemuda kecamatan Krangkeng
DIALOG GUS DUR DAN SANTRI3
DIALOG GUS DUR DAN SANTRI
Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."
Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."
Remaja Jamiyah Singakerta kecamatan Krangkeng - Indramayu
1000 Jalan Mencintai Gus Dur
1000 Jalan Mencintai Gus Dur
Suatu hari di awal tahun 2010, penulis pulang kampung di daerah Banyumas, Jawa tengah. Sesaat setelah sampai di rumah, penulis bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang yang aktif dalam jamaah pengajian ibu-ibu. Dengan agak serius, ibu itu berkata, ”Mas, kiamat sudah dekat ya, ko banyak orang alim yang meninggal?” Saya-pun berujar, ”Siapa yang meninggal”? Ibu itu menyebutkan salah seorang kyai lokal yang baru meninggal dan dengan tegas menyebut: Gus Dur.
Sementara itu, pada hari meninggalnya Gus Dur, penulis menyaksikan sendiri seorang pengasuh pesantren di Yogyakarta mengibarkan bendera setengah tiang di halaman masjid selama 7 hari. Entah karena pengaruh instruksi presiden atau tidak yang jelas ini memberikan kesan mendalam tentang penghormatan kiai tersebut kepada sosok Gus-Dur.
Dua peristiwa diatas tiba-tiba muncul dalam memori peringatan 7 tahun meninggalnya Sang Guru Bangsa itu. Ingatan itu beriringan dengan banyaknya orang, organisasi atau lembaga yang mencoba meneruskan cita-cita Gus Dur. Gagasan Gus Dur layaknya gagasan orang hebat lainnya terus dikaji, didiskusikan dan disebarluaskan di berbagai tempat. Namun seperti halnya Gus Dur yang multitalenta, beragam pula cara orang untuk mengenal dan meneruskan pemikirannya.
Barangkali Gus Dur merupakan salah satu manusia di negeri ini yang dikenal memiliki banyak sisi. Selain sebagai Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur adalah seorang ulama, kolumnis, politisi, aktivis dan pemikir Islam. Maka spektrum kehidupan kehidupannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang dapat menilainya sebagai cucu ulama besar yang menjadi ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Ia juga bisa dilihat sebagai aktivis yang getol memperjuangkan HAM, pluralisme dan demokrasi. Selain itu, ia juga seorang tokoh politik dengan manuver dan komentar yang banyak dinantikan. Dalam hal ini, Gus Dur menjadi manusia super komplet yang membedakannya dengan banyak tokoh lain di negeri ini. Entah butuh puluhan atau ratusan tahun lagi, manusia seperti Gus Dur dapat lahir kembali.
Salah satu sisi Gus Dur yang sangat menonjol adalah kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Hampir 14 tahun ia menjadi ketua di organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Selama itu, ia memiliki peran yang tak sedikit dalam lintas sejarah NU. Setidaknya ada 4 peran utama Gus Dur pada saat memimpin Nahdlatul Ulama. Pertama, Gus Dur bersama tokoh-tokoh muda NU pada tahun 1983 merumuskan formulasi kembali ke khitah.
Dengan gagasan NU, NU kembali menjadi kekuatancivil society yang disegani. Kedua, Gus Dur menjadi simbol perlawanan NU terhadap rezim orde baru yang otoriter. Hal ini pula yang membawa Gus Dur menjadi salah satu tokoh demokrasi. Ketiga, pemikiran dan gagasan Gus Dur yang mampu menginspirasi anak muda NU untuk tampil progresif dan tranformatif.Keempat, memperkenalkan dunia NU dan pesantren ke khalayak umum.
Sekompleks apapun peran pribadi seorang Gus Dur, ia tetaplah orang pesantren yang memimpin NU. Sehingga mayoritas masyarakat NU pasti akan menempatkan Gus Dur pada posisi yang sangat dihormati, yaitu seorang kiai, ulama. Sebagai kiai, Gus Dur adalah seorang alim yang ditunggu wejangan dan nasihatnya.
Maka Gus Dur-pun banyak berkeliling ke pelosok-pelosok untuk memberikan ceramah. Pengajiannya di daerah-daerah selalu dihadiri banyak orang. Sebagai contoh, pada pertengahan tahun 2002, Gus Dur pernah berceramah di dekat rumah penulis. Saat itu ribuan orang hadir bahkan banyak anak-anak yang bolos sekolah demi bisa ikut pengajian.
Apalagi dalam diri Gus Dur mengalir darah biru kiai, sehingga posisi ini menempatkannya semakin dihormati oleh masyarakat NU. Tak mengherankan tak sedikit orang yang megakui Gus Dur sebagai wali, orang yang dikasihi Allah SWT. Tentu kita sudah sering mendengar tentang sebutan ‘Wali Gus Dur’ yang dipopulerkan banyak orang juga tentang makamnya yang terus diziarahi orang setiap waktu.
Hal ini menegaskan posisi Gus Dur yang berada dalam hati banyak masyarakat apalagi warga NU. Kedekatan ini dengan jelas dapat dilihat saat Gus Dur dipaksa turun sebagai Presiden oleh MPR, maka banyak masyarakat yang “berani mati” untuk membela Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur sendiri yang menolak pembelaan terhadap dirinya tersebut. Ekspresi orang-orang ini tentu tak berlebihan mengingat kecintaan dan pernghormatan yang sedemikian tinggi kepadanya.
Dalam peringatan 1000 Hari wafatnya Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan bahwa para penerus Gus Dur dapat meniru Gus Dur dari sudut yang dipahaminya. Gus Dur bisa diteladani dari sikap kesederhanaanya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi dalam menegakan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur semampunya.
Demikian halnya cara orang mencintai Gus Dur. Sudahmafhum bagi kita banyak politikus yang membawaplatform nilai-nilai Gus Dur dalam berpolitik. Terlepas dari idealisme, tentu ini bagian dari cara mencintai Gus Dur. Ada yang rajin mengkaji, menulis dan menyebarkan gagasan Gus Dur dalam berbagai isu. Tentu tujuannya merawat gagasan tersebut agar tetap relevan sepanjang waktu.
Sejumlah seniman menunjukkan cinta kepada Gus Dur, dengan mengabadikannya dalam bentuk patung dan lukisan. Bahkan ada pula yang mengisahkannya dalam bentuk komik atau ada juga yang mengumpulkan kisah-kisah humor yang terkait dengan Gus Dur. Sementara itu, ribuan orang rajin meziarahi makamnya seraya berharap berkah dari kealimannya. Semua cara-cara tersebut adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Sang Guru Bangsa.
Sebagaimana ibu jamaah pengajian tadi yang mengaitkan meninggalnya Gus Dur dengan semakin dekatnya hari kiamat, maka banyak orang memiliki pandangan yang hampir sama, mengimaginasikan Gus Dur sebagai manusia ‘alim, khoriqul ‘adah dan luar biasa. Informasi yang penulis dapatkan, beberapa pesantren di Cilacap-mungkin juga ditempat lain- memasukan nama Gus Dur dalam susunan tawassul saat acara tahlilan.
Hal-hal demikian juga merupakan contoh ekspresi kecintaan terhadap Gus Dur. Mereka barangkali tidak mengenal tentang ‘Pribumisasi Islam’. ‘Pesantren sebagai Subkultur’ dan elemen pemikiran Gus Dur lainnya, akan tetapi mereka mengaktualisasikan kecintaan kepada Gus Dur dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman masing-masing.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kecintaan terhadap Gus Dur tidak hanya milik kelompok tertentu. Cinta kepadanya adalah cinta berbagai manusia dengan beragam warna yang merasa kehilangan setelah kepergiannya. Cinta itu diekspresikan dalam berbagai cara, dengan 1000 jalan.
#Lahul fatihah...
Penulis adalah Pecinta Gus Dur, Kader IPNU Yogyakarta, Pendidik di Kabupaten Kaur, Bengkulu.
Suatu hari di awal tahun 2010, penulis pulang kampung di daerah Banyumas, Jawa tengah. Sesaat setelah sampai di rumah, penulis bertemu dengan tetangga yang kebetulan seorang yang aktif dalam jamaah pengajian ibu-ibu. Dengan agak serius, ibu itu berkata, ”Mas, kiamat sudah dekat ya, ko banyak orang alim yang meninggal?” Saya-pun berujar, ”Siapa yang meninggal”? Ibu itu menyebutkan salah seorang kyai lokal yang baru meninggal dan dengan tegas menyebut: Gus Dur.
Sementara itu, pada hari meninggalnya Gus Dur, penulis menyaksikan sendiri seorang pengasuh pesantren di Yogyakarta mengibarkan bendera setengah tiang di halaman masjid selama 7 hari. Entah karena pengaruh instruksi presiden atau tidak yang jelas ini memberikan kesan mendalam tentang penghormatan kiai tersebut kepada sosok Gus-Dur.
Dua peristiwa diatas tiba-tiba muncul dalam memori peringatan 7 tahun meninggalnya Sang Guru Bangsa itu. Ingatan itu beriringan dengan banyaknya orang, organisasi atau lembaga yang mencoba meneruskan cita-cita Gus Dur. Gagasan Gus Dur layaknya gagasan orang hebat lainnya terus dikaji, didiskusikan dan disebarluaskan di berbagai tempat. Namun seperti halnya Gus Dur yang multitalenta, beragam pula cara orang untuk mengenal dan meneruskan pemikirannya.
Barangkali Gus Dur merupakan salah satu manusia di negeri ini yang dikenal memiliki banyak sisi. Selain sebagai Presiden Indonesia ke-4, Gus Dur adalah seorang ulama, kolumnis, politisi, aktivis dan pemikir Islam. Maka spektrum kehidupan kehidupannya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Seseorang dapat menilainya sebagai cucu ulama besar yang menjadi ketua organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Ia juga bisa dilihat sebagai aktivis yang getol memperjuangkan HAM, pluralisme dan demokrasi. Selain itu, ia juga seorang tokoh politik dengan manuver dan komentar yang banyak dinantikan. Dalam hal ini, Gus Dur menjadi manusia super komplet yang membedakannya dengan banyak tokoh lain di negeri ini. Entah butuh puluhan atau ratusan tahun lagi, manusia seperti Gus Dur dapat lahir kembali.
Salah satu sisi Gus Dur yang sangat menonjol adalah kepemimpinannya di Nahdlatul Ulama. Hampir 14 tahun ia menjadi ketua di organisasi islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Selama itu, ia memiliki peran yang tak sedikit dalam lintas sejarah NU. Setidaknya ada 4 peran utama Gus Dur pada saat memimpin Nahdlatul Ulama. Pertama, Gus Dur bersama tokoh-tokoh muda NU pada tahun 1983 merumuskan formulasi kembali ke khitah.
Dengan gagasan NU, NU kembali menjadi kekuatancivil society yang disegani. Kedua, Gus Dur menjadi simbol perlawanan NU terhadap rezim orde baru yang otoriter. Hal ini pula yang membawa Gus Dur menjadi salah satu tokoh demokrasi. Ketiga, pemikiran dan gagasan Gus Dur yang mampu menginspirasi anak muda NU untuk tampil progresif dan tranformatif.Keempat, memperkenalkan dunia NU dan pesantren ke khalayak umum.
Sekompleks apapun peran pribadi seorang Gus Dur, ia tetaplah orang pesantren yang memimpin NU. Sehingga mayoritas masyarakat NU pasti akan menempatkan Gus Dur pada posisi yang sangat dihormati, yaitu seorang kiai, ulama. Sebagai kiai, Gus Dur adalah seorang alim yang ditunggu wejangan dan nasihatnya.
Maka Gus Dur-pun banyak berkeliling ke pelosok-pelosok untuk memberikan ceramah. Pengajiannya di daerah-daerah selalu dihadiri banyak orang. Sebagai contoh, pada pertengahan tahun 2002, Gus Dur pernah berceramah di dekat rumah penulis. Saat itu ribuan orang hadir bahkan banyak anak-anak yang bolos sekolah demi bisa ikut pengajian.
Apalagi dalam diri Gus Dur mengalir darah biru kiai, sehingga posisi ini menempatkannya semakin dihormati oleh masyarakat NU. Tak mengherankan tak sedikit orang yang megakui Gus Dur sebagai wali, orang yang dikasihi Allah SWT. Tentu kita sudah sering mendengar tentang sebutan ‘Wali Gus Dur’ yang dipopulerkan banyak orang juga tentang makamnya yang terus diziarahi orang setiap waktu.
Hal ini menegaskan posisi Gus Dur yang berada dalam hati banyak masyarakat apalagi warga NU. Kedekatan ini dengan jelas dapat dilihat saat Gus Dur dipaksa turun sebagai Presiden oleh MPR, maka banyak masyarakat yang “berani mati” untuk membela Gus Dur. Meskipun pada akhirnya Gus Dur sendiri yang menolak pembelaan terhadap dirinya tersebut. Ekspresi orang-orang ini tentu tak berlebihan mengingat kecintaan dan pernghormatan yang sedemikian tinggi kepadanya.
Dalam peringatan 1000 Hari wafatnya Gus Dur, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan bahwa para penerus Gus Dur dapat meniru Gus Dur dari sudut yang dipahaminya. Gus Dur bisa diteladani dari sikap kesederhanaanya, kecintaan terhadap ilmu atau tingkat kepercayaan dirinya yang sangat tinggi dalam menegakan kebenaran. Masing-masing berhak meneladani Gus Dur semampunya.
Demikian halnya cara orang mencintai Gus Dur. Sudahmafhum bagi kita banyak politikus yang membawaplatform nilai-nilai Gus Dur dalam berpolitik. Terlepas dari idealisme, tentu ini bagian dari cara mencintai Gus Dur. Ada yang rajin mengkaji, menulis dan menyebarkan gagasan Gus Dur dalam berbagai isu. Tentu tujuannya merawat gagasan tersebut agar tetap relevan sepanjang waktu.
Sejumlah seniman menunjukkan cinta kepada Gus Dur, dengan mengabadikannya dalam bentuk patung dan lukisan. Bahkan ada pula yang mengisahkannya dalam bentuk komik atau ada juga yang mengumpulkan kisah-kisah humor yang terkait dengan Gus Dur. Sementara itu, ribuan orang rajin meziarahi makamnya seraya berharap berkah dari kealimannya. Semua cara-cara tersebut adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Sang Guru Bangsa.
Sebagaimana ibu jamaah pengajian tadi yang mengaitkan meninggalnya Gus Dur dengan semakin dekatnya hari kiamat, maka banyak orang memiliki pandangan yang hampir sama, mengimaginasikan Gus Dur sebagai manusia ‘alim, khoriqul ‘adah dan luar biasa. Informasi yang penulis dapatkan, beberapa pesantren di Cilacap-mungkin juga ditempat lain- memasukan nama Gus Dur dalam susunan tawassul saat acara tahlilan.
Hal-hal demikian juga merupakan contoh ekspresi kecintaan terhadap Gus Dur. Mereka barangkali tidak mengenal tentang ‘Pribumisasi Islam’. ‘Pesantren sebagai Subkultur’ dan elemen pemikiran Gus Dur lainnya, akan tetapi mereka mengaktualisasikan kecintaan kepada Gus Dur dengan caranya sendiri sesuai dengan pemahaman masing-masing.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kecintaan terhadap Gus Dur tidak hanya milik kelompok tertentu. Cinta kepadanya adalah cinta berbagai manusia dengan beragam warna yang merasa kehilangan setelah kepergiannya. Cinta itu diekspresikan dalam berbagai cara, dengan 1000 jalan.
#Lahul fatihah...
Penulis adalah Pecinta Gus Dur, Kader IPNU Yogyakarta, Pendidik di Kabupaten Kaur, Bengkulu.
Ansor Banser PAC Krangkeng - Indramayu
Kecamatan Krangkeng semakin mempesona
Di kecamatan krangkeng banyak disetiap desa atau masing - masing desanya banyak remaja dan pemuda yang aktif dalam kegiatan positif, seperti : kegiatan keagamaan dan kegiatan positif lainya.
Para remaja antusias ketika setiap mengadakan acara atau kegiatan yang positif.
Dengan banyaknya kegiatan yang positif para Remaja dan para pemuda kecamtan Krangkeng,
Semoga pihak pemerintah mensuport setiap kegiatan para pemuda yang positif agar meminimalisir kenakalan remaja dan bisa mengurangi kegiatan negatif para pemuda di kecamatan Krangkeng.
Para remaja antusias ketika setiap mengadakan acara atau kegiatan yang positif.
Dengan banyaknya kegiatan yang positif para Remaja dan para pemuda kecamtan Krangkeng,
Semoga pihak pemerintah mensuport setiap kegiatan para pemuda yang positif agar meminimalisir kenakalan remaja dan bisa mengurangi kegiatan negatif para pemuda di kecamatan Krangkeng.
Rutinan marhabanan di rumah anggota Jamiyah Remaja Singakerta
Pemuda kecamatan Krangkeng mengikuti Kemah Bhakti acara KNPI
Mengawal ustdaz Najib ceramah Nada dan Dakwah
Remaja Singakerta ikut andil di MWCNU kecamatan Krangkeng
Kader BANSER dari kecamatan Krangkeng
Diskusi bersama kang Ahkmad ketua BANSER atau komandan BANSER kecamatan Krangkeng
Tahlil di Rumah Warga
Diskusi santai bersama mahasiswa IKMI ( ikatan keluarga mahasiswa Indramayu )
Diskusi Santai antar pemuda kecamatan Krangkeng
Rutinan merhabanan di rumah anggota Jamiyah Singakerta bersama anggota ANSOR desa Singakerta kecamatan krangkeng kab. Indramyu Jawa Barat
Semoga semakin sukses,
Mengalir bahagia dan selalu beruntung...
Kecamatan Krangkeng semakin harum namanya
Kecamatan Krangkeng semakin harum namanya.
Di kecamatan krangkeng banyak disetiap desa atau masing - masing desanya banyak remaja dan pemuda yang aktif dalam kegiatan positif, seperti : kegiatan keagamaan dan kegiatan positif lainya.
Para remaja antusias ketika setiap mengadakan acara atau kegiatan yang positif.
Di kecamatan krangkeng banyak disetiap desa atau masing - masing desanya banyak remaja dan pemuda yang aktif dalam kegiatan positif, seperti : kegiatan keagamaan dan kegiatan positif lainya.
Para remaja antusias ketika setiap mengadakan acara atau kegiatan yang positif.
Diskusi tentang kebersihan lingkungan
Rutinan merhabanan di rumah anggota jamiyah remaja singakerta
Diskusi dengan BANSER tentang keaswajahan
Latihan Hadroh bersama Jamiyah Remaja Singakerta
Tahlilan di Rumah warga
Diskusi bersama Ikatan Keluarga Mahasiswa Indramayu ( IKMI )
Sosialisasi tentang kebersihan lingkungan
Marhaban Rutinan Pemuda / Remaja Jamiyah Singakerta
Menghadiri acara DIKLATSAR acara BANSER
Pemuda dan pemudi kecamatan Krangkeng banyak yang mengikuti acara BANSER
Pemuda kecamatan Krangket ikut Kemah bhakti KNPI
Mengikuti lomba hadroh di Islamic Indramayu
Bersama kang Najib penceramah Nada dan Dakwah
Minta bimbingan Panwas kecamatan Krangkeng tentang pemilu
Latihan hadroh bersama remaja Singakerta
Partisipasi di acara khitanan kang haris
Ziaroh di makbaroh habib keling
Rutinan ziaroh di habib keling
Diskusi bersama pemuda luwunggesik
Latihan rutinan hadroh
Marhaban rutinan di musolla
Diskusi santai anatar pemuda desa di kecamatan krangkeng
Ngaji rutinan bersama kang haris
Diskusi santai antar pemuda
Diskusi bersama BANSER tentang keagamaan
Rutinan merhabanan
Latihan rutinan hadroh
Latihan hadroh bersama remaja Singakerta
Latihan rutinan
Ramapak hadroh di Islamic Indramayu
Ngaji rutinan bersama kang haris
Ngaji rutianan bersama kang haris
Diskusi santai bersama BANSER
Diskusi dgn tokoh masyarakat
Rutinan marhabanan remaja Singakerta
Muludan
Latiahan bareng bersama sohibul wathon
Silarahim pemuda ke kantor desa di kecamatan krangkeng
Mengahdiri acara maulid di MWCNU kecamatan Krangkeng
Langganan:
Komentar (Atom)























































